QS 3.Ali 'Imran:109
"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada
di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan."
QS 2.Al Baqarah:284
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada
di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa
yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu."
Manusia dilahirkan ke dunia fana ini tidak
ada sesuatupun yang dibawa. Pada saat lahirpun hanya bisa menangis saja. Apapun
yang menjadi kebutuhannya maka bayi pun menangis. Dengan menangis Ibu lalu
memberikan apa yang diperlukannya.
Dari waktu ke waktu bayi tumbuh menjadi
anak anak kemudian bertumbuh lagi menjadi dewasa dan menjadi orang tua.
Kemampuan yang semula hanya bisa menangis saja lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala
ajari bicara. Yang tadinya hanya bisa merangkak kesana kemari kemudian diberi
Nya kepandaian ini dan itu, keahlian ini dan itu. Semuanya hanyalah
pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah tiba masanya maka
dianugerahinya jodoh sebagai pasangan hidup didunia ini agar tenang dan
merasakan kenikmatan lebih bersama kekasihnya. Dimudahkanlah rizqinya sehingga
dapat digunakan untuk membeli rumah untuk berteduh dan membesarkan anak
anaknya, digunakan untuk keperluan keperluan hidup lainnya seperti kendaraan,
perabotan rumah tangga lainnya dan sarana sarana penunjang lainnya.
Sampai suatu saat ia memperoleh jabatan
yang begitu penting dalam pemerintahan. Kekuasaan ada dalam gengamannya,
kesempatan terbuka lebar lebar jika ia mau ini dan itu. Tawaran tawaran pun
mulai berseliweran di depan matanya. Dalam hatinya dia berkata “Mumpung ada
kesempatan, mumpung saya ada kekuasaan, mengapa tidak saya ambil semuanya saja?”
Manusia tidak menyadari kalau semua ini
hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia lupa saat terlahir ke
dunia dia tidak membawa apa apa, tidak bisa apa apa, tidak tahu apa apa, tidak
punya apa apa. Kemudian dia bisa apa apa karena dimampukan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Kemudian dia punya apa apa karena semuanya diberi Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dia bisa tahu apa apa pun karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
memberi ilmu kepadanya.
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al Alaq ayat 1 s/d 5 )
Titipan apapun harus dikembalikan.
Kapanpun diminta harus kita serahkan dalam keadaan baik. Maka demikian pula apa
saja yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah titipkan pada kita suatu saat nanti
pasti akan diminta kembali. Manusia harus dapat mempertanggung jawabkan
dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala semua titipan tersebut. Mata, telinga, hati
maupun fikiran semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya.
''Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran,
penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.'' (QS
17:36).
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki
seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban)
tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia
mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana
dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”[HR.Tirmidzi]
Selama ini bagaimana kita telah manfaatkan
mata, adakah untuk menyaksikan tanda tanda Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
di alam raya ini, ataukah digunakan untuk melihat perkara perkara yang haram
dilihat ? Telinga, adakah sudah kita manfaatkan sesuai dengan Kehendak Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk mendengarkan ayat ayat suci Nya, mendengarkan
Perintah Perintah nya serta Larangan Larangan Nya, ataukah digunakan untuk
mendengarkan hal hal yang sia sia seperti mendengarkan musik musik yang
cenderung membuat kita lalai dari mengingat Nya ? Hati untuk membedakan
mana yang haq dan mana yang bathil karena hati diciptakan Allah Subhanahu wa
ta’ala untuk membuka diri terhadap kebenaran. Fikir sudahkah digunakan untuk
memikirkan mengenai ciptaan ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghantarka
kita pada pengenalan lebih dekat dan semakin dekat lagi kepada Nya ? Atau
bahkan dengan fikiran yang dikaruniakan ini menjadikan kita semakin sombong dan
tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala karena merasa paling tahu, paling
benar paling baik diantara semua manusia ?
Jangankan di akhirat nanti seandainya
semua titipan yang kita terima diminta di dunia ini maka sudah pasti harus
ikhlas diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berapa banyak waktu
kesempatan hidup kita yang sudah diberikan ? Berapa banyak harta benda yang
sudah kita ni’mati kelezatannya ? Terlebih lebih ni’mat badan , jasmani dan
ruhani yang selama ini terus menyatu dengan diri. Betapa besarnya semua ni’mat
ini yang tidak sanggup kita menghitungnya.
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi
menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi)
sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Luqmaan:27).
Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya meminta
ketika di dunia ini sedikit saja dari semua yang sudah dianugerahkan kepada
kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya meminta sedikit harta benda kita, hanya
sedikit saja waktu kita dan hanya sedikit sekali dari diri kita. Semua ini
apabila kita relakan untuk dikorbankan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti
akan diberi ganti yang jauh lebih baik lagi. Dan janji Allah Subhanahu wa
Ta’ala adalah PASTI BENAR .
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan
harta-harta mereka di jalan Allah adalah seperti sebuah biji (benih) yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada masing-masing tangkai terdapat seratus biji.
Allah melipatgandakan (balasan) kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Dan Allah
Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261)
Hanya harta saja apabila diinfaqkan pasti
akan diberi 700 kali lipat. Bagaimana apabila kita luangkan waktu kita , kita
korbankan diri kita ? Pastilah akan mendapatkan jauh lebih besar dan lebih
mulia lagi dari pahala yang telah dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengambil
sedikit dari waktu, harta dan diri kita bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerlukan itu semua , melainkan karena akan diganti dengan keni’matan yang
kekal abadi di syurga . Keni’matan yang tiada ada akhirnya yang dari waktu ke
waktu semakin bertambah tambah keni’matannya. Apalah artinya tiga hari
dibanding tiga puluh hari , empat puluh hari dalam setahun dan empat bulan
seumur hidup untuk kita luangkan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala
menolong agama Nya agar tersebar di seluruh dunia hingga akhir zaman nanti.
Bahkan seandainya seluruh waktu kita seluruh harta kita dan seluruh jiwa dan
raga kita pun seharusnya kita serahkan sepenuhnya apabila sudah di Kehenadaki
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diminta. Setidak tidaknya kita belajar
menyerahkan semua yang diminta Allah Subhanahu wa Ta’ala sepenuh hati kita.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan
merasa ringan maupun berat, & berjihadlah kamu dgn harta & dirimu di
jalan Allah. Yang demikian itu adl lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (
QS At Taubah ayat 41 )
Dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS
Al Ankabuut ayat 69.)
Yaa Allah.... astaghfirullah..π’π’π’π’π’π’π’π’π’
ReplyDeleteJazakillaah
ReplyDelete