Dakwah Maksud Hidup


widgeo.net

Friday, 3 May 2019

Hikmah Puasa di Bulan Suci Rhamadlan


Setiap insan pasti menginginkan hidup mulia. Tidak satupun insan menginginkan kehinaan baik didalam kehidupan duniawi maupun kehidupan akhirat. Segala daya dan upaya dikerjakan untuk meraih cita cita tersebut.
Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah SWT). Jadi, klaim kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)

Upaya menggapai kemuliaan dengan derajat Takwa
Semua ibadah adalah untuk meningkatkan derajad taqwa. Dan bulan suci Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk menggapai derajat taqwa tersebut. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 183: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).
Ayat diatas menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat taqwa. Dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Oleh karena itu sebagai muslim jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan besar di bulan Ramadhan ini.
Kenapa? Karena dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Dan inilah yang sebenarnya dimaksud dengan takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap larangan, diantaranya makan, minum, berjima’ dengan istri di siang hari dan sebagainya. Di lain bulan Ramadhan, apa apa yang dilarang bukanlah larangan. Sehingga umat Islam benar-benar diuji untuk melaksakan perintah dan menjauhi larangan semata mata hanya karena mengharap Ridha Allah SWT bukan karena itu adalah suatu perintah dari Allah SWT atau bahwa hal tersebut adalah larangan dari Allah SWT. Dengan kata lain bahwa dengan berpuasa hamba hamba Allah ingin meraih derajad tertinggi di sisi Allah SWT yakni dengan menyempurnakan hubungan tidak hanya sebagaimana seorang budak dengan Tuannya melainkan sebagaimana hubungan antara kekasih hati yang saling mencintai. 

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Didalam hati seorang kekasih hanya ada satu satunya cinta kepada kekasih hatinya , tidak ada keinginan secuilpun untuk mengkhianati sang kekasih. 

Ketiga, ketika berpuasa, setiap hamba akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Tidak ada rasa puas diri apalagi kebosanan yang ada hanyalah merasa selalu rindu ingin selalu berdekatan dengan Allah SWT dengan selalu melaksanakan amalan amalan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Marilah pada bulan suci ramadlan kali ini dan seterusnya kita akan meraih setinggi tingginya derajat di sisi Allah SWT yakni derajad Taqwa, menjadi hamba Allah SWT yang benar benar sebagai Muttaqin . In Syaa Allah

Monday, 1 April 2019

Maukah kamu memaafkan kesalahanku ?


Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan dan dosa. Setiap Bani Adam akan sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertobat kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
 “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
 “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah sesuatu perbuatan dosa (kesalahan)  dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”

Karakteristik manusia adalah selalu melakukan kesalahan dan dosa. Tergelincir dan terjatuh dalam kubangan dosa adalah perkara lumrah yang biasa terjadi. Sehingga bukanlah yang dituntut dari manusia bersih tidak pernah melakukan dosa. Namun yang dituntut dari mereka adalah bertaubat ketika berbuat dosa. Lalu adakah manusia yang tidak memiliki kesalahan dan dosa ?
Jika manusia tidak melakukan dosa sama sekali, maka Allah -subhanahu wata’ala- akan menciptakan manusia yang melakukan dosa, lalu Allah akan mengampuni mereka. Sebagaimana yang tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Ayyub -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata ketika hendak meninggal: 

“Aku menyembunyikan dari kalian satu ilmu yang aku dengar dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda” :

لَوْلَا أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ
 “Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit pun, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka.” [HR. Muslim]

Hadits ini tidak bermakna Allah -subhanahu wa ta’ala- senang jika hamba-Nya melakukan dosa atau senang dengan kemaksiatan, akan tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- membenci kekufuran dan tidak pula ridha dengan kekufuran serta tidak senang dengan kemaksiatan. Akan tetapi Allah suka jika hamba-Nya yang berbuat dosa dan maksiat dia bersegera bertobat kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- serta beristighfar kepadanya. Inilah makna dari hadits tersebut”

Allah SWT Maha Pengampun memaafkan dosa dosa hamba hamba bahkan Allah SWT akan menghapus dosa dosa hamba hamba sehingga tidak ada lagi bukti bukti bahwa hamba hamba Nya pernah melakukan dosa dosa dibumi ini. Semua saksi saksi baik yang pernah mengetahui atau saksi saksi dari anggota tubuhnya sendiri semuanya sudah dilupakan oleh Allah SWT sebab Kasih Sayang dan Ampunan Nya. Allah SWT bahkan mengganti keburukan keburukan dosa dosa tersebut dengan kebaikan kebaikan berupa pahala.
Dalam perkara yang sangat prinsipil sekalipun, Nabi SAW tetap mau memaafkan, sehingga tidak menjadi beban baru bagi dakwah dan hidup beliau. Ketika orang-orang Thaif merespons dakwah beliau dengan tindakan yang sangat kasar, Rasulullah memilih untuk memaafkan.
Beliau tidak hanya melupakan perlakuan kasar mereka, malah membalasnya dengan untaian doa, ''Ya Allah, berilah hidayah kepada mereka. Sesungguhnya mereka mengasariku hanya karena mereka tidak tahu.''

Lalu bagaimana halnya dengan kita terhadap sesama hamba Allah lainnya ? Memang memaafkan bukanlah perkara mudah. Namun perlu kita renungkan secara mendalam, saat kita membenci mereka dan marah berkepanjangan karena kesalahan yang bahkan tidak prinsip, kita telah melupakan satu hal. Mereka sama dengan kita, kita pun sama dengan mereka. Manusia yang bisa kapan saja melakukan salah dan dosa. Mungkin kita hanya melihat mereka saat mereka melakukan salah. Tapi kita lupa betapa besar dan berharganya mereka yang juga sempat berbuat baik pada kita.

Jangan menutup hati hanya karena rasa marah dan kekesalan atas kesalahan yang mereka lakukan. Kita pun suatu saat akan melakukan kesalahan yang sama, dan berjuang mendapatkan kata maaf dari orang lain.
Tahukah anda, jutaan sel di dalam tubuh akan bereaksi setiap kali otak dan hati melakukan sesuatu baik positif maupun negatif. Bayangkan saja saat kita marah, sudah berapa sel di dalam tubuh kita yang rusak dan membuat kita menjadi kehilangan keseimbangan dalam menjaga kesehatan.
Banyak organ di dalam tubuh kita yang akan menerima dampak buruknya. kita menjadi lebih mudah stres secara mental dan sakit secara fisik. Dari sinilah, jangan memendam sesuatu hal yang negatif di dalam diri kita. Bahkan jika masih sulit memaafkan orang lain karena kita masih seringkali kesal saat melihatnya. Cobalah memaafkan mereka saat kita memikirkan diri sendiri. Bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri.

Ketika seseorang mau memaafkan orang lain, sebenarnya ia telah mengambil keputusan besar untuk menggugurkan haknya. Hak untuk mengungkit sakit hati, menyimpan dendam, atau membalas perlakuan buruk yang pernah dideritanya.

Kedua, memaafkan adalah pangkal kemuliaan. Sebab, hanya orang yang mulia dan berjiwa besar yang bisa dengan lapang melebur kesalahan orang lain. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kebajikan setiap hamba-Nya. Dia akan membalas kelapangan orang yang mau membuka pintu maafnya dengan limpahan kemuliaan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah bersabda, 

''Allah akan membalas orang yang mau memaafkan (orang lain) dengan menambah kemuliaannya.''

Ketiga, memaafkan adalah tabungan akhirat yang tak ternilai. Dalam Alquran suras al-Syura ayat 40, Allah SWT berfirman, 

''Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah.''

Saat menafsirkan ayat ini, Imam al-Hasan RA meriwayatkan, 

''Pada hari kiamat nanti, semua manusia akan dibawa ke hadapan Allah kemudian ada yang menyeru, 'Tidak boleh berdiri kecuali orang yang mempunyai simpanan pahala di sisi Allah'. Ternyata, tidak ada yang berdiri kecuali orang-orang yang pernah memaafkan orang lain kala hidup di dunia.''

Masihkah kita sulit untuk memaafkan saudara kita ? Apakah kita tidak ingin mendapat ampunan dan maaf dari Allah SWT sebab kita suka memaafkan saudara kita ketika di dunia ? Apakah kita enggan memperoleh syafaat dari Rasulullaah saw sebab memiliki sifat suka memaafkan bahkan sebelum saudara kita meminta maaf. Hamba Allah SWT yang pemaaf mendapatkan jaminan syurga siapapun orangnya meski mungkin tidak memiliki amalan amalan hebat yang menjadi andalannya kecuali sifat pemaaf itu saja. Ketika kita memaafkan saudara kita sesungguhnya kita sedang memaafkan diri sendiri dari segala kesalahan dan dosa dosa kita. Wallahu a’lam.


Sunday, 31 March 2019

Amalan hati jauh lebih penting daripada amalan badan.


Hati merupakan inti dari diri seorang manusia. Dan, Allah SWT sangat memperhatikankondisi hati setiap hamba-Nya.
Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
 “Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hati diibaratkan raja, sedang aggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila buruk, maka demikian pula urusan para prajuritnya. Oleh sebab itu, dalam Islam amalan hati memiliki kedudukan yang agung. Bisa dikatakan, pahala dari amalan hati lebih besar daripada amalan badan. Sebagaimana dosa hati lebih besar daripada dosa badan. Oleh karena itu kita dapati; dosa kufur dan kemunafikan lebih besar daripada dosa zina, riba, minum khamr, judi dst.
Hati adalah standar kebaikan amalan badan. Ia ibarat pemimpin bagi badan. Baiknya hati akan berpengaruh pada baiknya amalan badan. Dan buruknya hati akan berpengaruh pada buruknya amalan badan.
Dalam hadits Qudsi disebutkan, dimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meriwayatkan dari Robb-nya, Allah ta’ala berfirman,

أنا أغني الشركاء عن الشرك, فمن عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته و شركه
“Aku paling tidak butuh pada sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amalan dalam keadaan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama dengan sekutunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas sebagai dalil bahwa amalan hati lebih besar kedudukannya daripada amalan badan. Karena amalan badan tidak akan berguna bila seorang berlaku syirik, sebanyak apapun amalannya. Baik syirik kecil apalagi syirik besar.
Seperti seorang sedekah karena riya’ (dan riya ini letaknya di hati), maka akan sia-sialah pahala. Sebesar apapun nominal sedekah yang ia keluarkan. Atau membaca Al Qur’an supaya dipuji suaranya oleh orang-orang (sum’ah). Ini juga akan sia-sia pahalanya. Meski sebagus apapun lantunan suaranya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan:

الأعمال الظاهرة لاتكون صالحة مقبولة إلا بواسط أعمال القلب، فإن القلب ملك واﻷعضاء جنوده، فإذا خبث الملك خبثت جنوده
“Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208).

Hati juga merupakan tempat memperolehnya pengetahuan hakiki setelah panca indera. Jika saja Allah Subhanahu Wata’ala tidak menciptakan hati bagi manusia, maka seseorang tidak akan mengetahui sesuatu sampai hakikatnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala  :

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ‌ۙلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ (٧٨)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16] : 78).

Ulama mengatakan hati merupakan tempatnya akal (fikiran), dan hati memiliki cahaya sebagai daya yang karenanya akal bisa berfikir.
Jadi, tanpa hati berserta cahayanya seorang manusia tidak dapat berfikir, serta tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Oleh sebab itu, hati adalah instrumen terpenting dalam diri manusia disebabkan kemampuannya untuk menilai bahwa sesuatu itu adalah baik atau buruk. Maka hendaknya seorang yang beriman berfikir dengan hati yang jernih.
Dengan demikian pantas jika dikatakan hati adalah inti atau raja dari setiap manusia. Sebab, pikiran, ucapan dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya.
Semua manusia dilahirkan di atas fitrah yakni dibekali dengan hati yang sesungguhnya telah mengenal kebaikan dan keselamatan ( Islam )

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi.”

Dan dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ
(Allâh Azza wa Jalla berfirman): Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”

Hati yang dijaga akan senantiasa memancarkan kekuatan iman, semakin tenang dengan melakukan kebaikan-kebaikan, terutama kala mendengarkan ayat-ayat Allah dikumandangkan

. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).

Amalan badan dan amalan hati merupakan amalan yang dicontohkan Rasulullah saw dan pertanda bahwa amalan tersebut semakin mendekati dengan Kehendak Allah SWT dan Sunnah Rasul saw yakni semakin timbul sifat kasih sayang terhadap semua makhluq. Sebaliknya amalan badan sehebat apapun akan tetapi jika tidak menimbulkan sifat kasih sayang terhadap semua makhluq boleh jadi ada kesalahan didalam amalan hatinya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.s. Maryam: 96).

(dari berbagai sumber)



Friday, 29 March 2019


Sesungguhnya seluruh keputusan (qadha) yang telah ditetapkan oleh Allah untuk para hamba-Nya, mengandung banyak kebaikan bahkan tak satupun yang mengandung kemudharatan walaupun dalam realitanya terlihat seolah olah tidak menyenangkan.
Sebagai misal, kita bisa melihatnya pada urusan rezeki, Allah melapangkan rezeki untuk sebagian orang dan menyempitkannya bagi sebagian lainnya. Hal ini bentuk pengajaran dari Allah demi kemaslahatan hamba-Nya, bukankah Allah berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 27)

Qadha dari Allah juga merupakan instrumen pembersih hati dari noda-noda dosa dan kelalaian yang pernah dilakukan oleh seorang hamba, seperti disebutkan dalam hadits:
 
“Tidaklah sebuah musibah yang menimpa seorang muslim seperti penyakit, kegelisahan, kesedihan bahkan terkena duri sekalipun, kecuali Allah telah gugurkan dosa-dosa (kecilnya) dengan musibah tersebut.” (Muttafaq ‘Alaih).

Seberapa jauh kadar cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa dibuktikan dengan sikapnya yang selalu ridha menerima keputusan Sang Khalik. Bagaimana tidak? Dia yakin bahwa Rabb-Nya tidak menginginkan apapun kecuali kebaikan.
Hamba tersebut juga meyakini bahwa Allah tidak akan menciptakan dirinya hanya untuk disiksa. Akan tetapi, Allah menciptakan dirinya dengan Kekuasaan dan Kemurahan-Nya kepada semua makhluk agar mereka semua dapat masuk ke dalam surga, tempat yang penuh nikmat dan abadi.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216).

أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

Hendaknya kita juga mengingat bahwa di antara kelembutan Allah ta’ala pada hamba-Nya adalah: “Dia menakdirkan berbagai macam musibah, cobaan hidup, serta ujian berupa perintah dan larangan yang berat dijalankan oleh hamba-Nya, sebagai bentuk kasih sayang dan kelembutan pada mereka, serta untuk menuntun mereka pada kesempurnaan diri dan agar limpahan nikmat tercurah secara sempurna kepada mereka. “

Banyak kisah kisah yang menginspirasi betapa hamba Allah SWT yang pasrah dan prasangka baik kepada Allah SWT pada akhirnya memperoleh pertolongan dari Allah SWT
Ibunda Musa ‘alaihi as-salam yang membuang anaknya ke laut. Kita dapat membayangkan bahwa betapa khawatirnya ibunda Musa ketika anaknya berada di tangan keluarga Fir’aun. Kendati demikian, hal itu berbuah manis dan berujung kebaikan di kemudian hari. Pesan itulah yang berusaha disampaikan oleh firman Allah di atas, yaitu dalam firman-Nya yang artinya :

“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216).

Demikian pula kisah Nabi Khidir yang membunuh seorang anak. Maka hendaknya kedua orang tuanya melihat takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, bahwa Allah ta’ala terkadang memalingkan suatu kenikmatan dari seseorang karena sayang kepadanya ! Tidakkah dia tahu ? Boleh jadi jika dirinya dianugerahi seorang anak, anak tersebut malah menjadi sumber kesengsaraan, kemalangan, dan penderitaan bagi kedua orang tua seperti yang menjadi alasan Khidr di atas.
Lalu apa yang menjadi pedoman dalam berupaya agar tidak terkesan pasif tanpa berbuat apapun menerima ketentuan dari Allah SWT
Inti dari semua ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang penyair,

عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَسْعَى إِلَى الْخَيْرِ جُهْدَهُ
وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ تَتِمَّ الْمَقَاصِدُ

Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan kebaikan
Tetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya. Maksudnya keberhasilan adalah suatu kepastian menurut Allah SWT bukan mengikut nafsu manusia. Allah SWT hanya ingin melihat sejauh mana hambanya berusaha lalu dengan Kasih Sayang Allah SWT akan disempurnakan ikhtiarnya dengan memberi suatu anugerah yang hanya Allah SWT sajalah yang Maha Mengetahui segala hikmah hikmahnya.

Tuesday, 27 February 2018

Hikmah di balik Kehendak Allah SWT





Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. ( QS Al Anbiya ayat 23 )

Mengapa Allah SWT tidak menjadikan semua manusia beriman kepada Nya, menjadikan semua manusia taat dengan ketaatan yang sempurna , hidup yang sempurna sesuai tuntunan Rasulullaah saw ?

Mengapa sebagian manusia beriman sementara sebagian tidak beriman , sebagian berjuang menegakkan syariat agama tegak di muka bumi sedangkan sebagian mati matian hendak memadamkan api agama Islam dari muka bumi ? 
Dalam kehidupan sosial ada yang ditaqdirkan menjadi orang yang kaya berlimpah harta sebaliknya ada hamba Allah SWT yang untuk makan sehari hari saja tidak mencukupi ? Bukankah Allah SWT Maha Kaya dan Maha Pemurah ? Belum kalau disimak dalam kancah perpolitikan dunia , banyak pemimpin pemimpin dunia yang dzalim dan sangat kejam menyiksa dan membantai ummat Islam. Dari hari ke hari berita selalu dipenuhi dengan kabar dari berbagai pelosok dunia ummat Islam yang teraniaya dimana mana sedangkan banyak ummat Islam yang hanya diam membisu tanpa bisa berbuat atau berkata kata sepatahpun ?

Semua yang berlaku di atas muka bumi ini hanyalah atas Kehendak Allah SWT . Allah SWT Maha Kuasa dan Maha BerKehendak berbuat apa saja yang Dia ingini. Tetapi tidak semua yang di Kehendaki Allah SWT maka Allah SWT ridlo. Misal seseorang berbuat maksiat memang Allah SWT mengijinkan ( atas Kehendak Allah SWT ) tetapi Allah SWT tidak meridloinya. 
Allah SWT Maha Pengasih Maha Penyayang, Maha Mengetahui Maha Melihat dan Maha Mendengar , Maha Mengatur. Bukan kita yang mempertanyakan kepada Allah SWT              ( naudzubillaah min dzaalik ) mengapa dunia seperti ini bahkan kitalah yang akan ditanya nanti oleh Allah SWT mengapa kita salah didalam memahami dan salah dalam menyikapi semua ini.

Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan dibalik semua apa yang menjadi Kehendak Allah SWT ada rahasia Kasih Sayang Allah SWT. Tidak bisa dibayangkan seandainya semua manusia sehat semuanya tidak ada yang sakit satu orangpun maka semua rumah sakit akan tutup semua dokter perawat bidan dan tenaga medis tidak punya pekerjaan, semua perusahaan obat obatan dan alat alat kesehatan tutup dan otomatis seluruh karyawannya kehilangan mata pencahariannya. Apa jadinya jika semua orang kaya raya tidak ada satupun yang miskin, lalu siapa yang mau membersihkan jalan jalan, memotong rumput yang semakin tinggi, yang mau memperbaiki ban yang meletus di jalan, yang sudi membersihkan kotoran di rumah kita ?

Demikian pula jika semua manusia telah sempurna imannya sempurna amalannya maka apalah artinya usaha perjuangan agama sebab tidak perlu lagi. Darimana kemuliaan akan diperoleh , derajad tertinggi akan diraih di sisi Allah SWT , apa alasan seseorang bisa menduduki syurga di akhirat kalau tidak ada bukti telah berjuang dengan penuh penderitaan selama di dunia, tidak ada lagi kebanggaan sebagai seorang muslim dihadapan Allah SWT karena tidak ada prestasi sama sekali yang akan dibuktikan di hadapan Nya.
Hamba hamba Allah SWT baru akan mencapai kemuliaan setelah nyata nyata berjuang dengan kesungguhan dan berkorban harta, waktu, jiwa dan raga semuanya untuk tegaknya Dienul Islam.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبُُ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214)

Dunia memang tempat ujian dan cobaan. Bagi orang yang beriman dunia ini ibarat penjara sementara bagi orang kafir seperti syurga. Orang yang dipenjara memang tidak bisa bebas berbuat semaunya serba diatur dan nampak menderita. Tetapi seperti narapidana yang ditunggu tunggu adalah kapan saat kebebasan bisa bertemu dengan orang orang yang dikasihinya. Orang kafir kematian merupakan hal yang paling menakutkan karena akan diputus dari segala kenikmatan dan akan dipaksa menerima adzab yang perih yang tidak diringankan bahkan semakin hari semakin berat adzabnya tidak ada sedikitpun keringanan.

Sesungguhnya dengan segala sesuatu yang di Kehendaki Allah SWT berlaku di dalam kehidupan dunia ini adalah untuk menyempurnakan iman dan amal hamba hamba Allah SWT karena memang kehidupan di dunia maksudnya untuk itu dan bagi hamba hamba Allah SWT yang disempurnakan Iman dan Amalnya ketika didunia ini kelak akan disempurnakan nafsunya di syurga. Kenikmatan syurga adalah kenikmatan yang sempurna yang tidak ada penderitaan sesaatpun dan semakin hari semakin meningkat tanpa ada batasnya.

Hidup dalam rahim untuk menyempurnakan jasmani, hidup di dunia untuk menyempurnakan Iman dan Amal dan bagi yang disempurnakan Iman dan Amalnya di dunia akan disempurnakan nafsunya di syurga kelak. Semoga kita semua termasuk hamba hamba Allah yang disempurnakan iman dan amal kita di dunia dan in syaa Allah akan disempurnakan nafsu kita di syurga kelak, aaamin.